PENGANTAR KIMIA ORGANIK
1.1 PENDAHULUAN
Senyawa organik adalah
senyawa kimia yang zat-zatnya berasal dari mahluk hidup, seperti : karbohidrat,
protein, lemak dan vitamin.
Sampai abad ke-19 para ahli
kimia masih mempercayai bahwa zat-zat semacam senyawa organik hanya terdapat
dalam mahluk hidup dengan bantuan tenaga gaib (vital force) dan tidak
dapat disintesa di laboratorium.
Pada tahun 1828 Friedrich
Wöhler (1800-1882) kimiawan dari Jerman berhasil mensintesa senyawa organik
dari senyawa anorganik, yaitu dari amonium tiosianat/NH4OCN
yang dipanaskan menghasilkan urea (H2N-CO-NH2)[1], dengan reaksi :
KOCN +
NH4CL Þ
KCl + NH4OCN (senyawa
anorganik)
NH4OCN
Þ H2N
– CO – NH2 (senyawa
organik)
Melihat hasil reaksi di
atas, maka istilah organik tidak tepat lagi, sekarang ini sudah banyak
senyawa organik yang dibuat di laboratorium[2]. Dari percobaan di atas dan
percobaan-percobaan berikutnya diketahui bahwa seluruh zat organik merupakan
senyawa-senyawa dari unsur karbon. Pada tahun 1859 Friedrich August
Kekule menegaskan dalam buku Lehrbuch der Chemie bahwa kimia
organik adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari khusus senyawa-senyawa
karbon. Dengan demikian jelaslah bahwa “senyawa organik adalah
senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon”. Karena dalam senyawa
organik unsur intinya adalah unsur karbon, kecuali CO, CO2 dan CO3
termasuk senyawa karbon anorganik.
Senyawa karbon organik
mempunyai persamaan dan perbedaan dengan senyawa karbon anorganik. Persamaannya
adalah sama-sama mengandung atom karbon.
Senyawa karbon merupakan
senyawa kimia yang lebih banyak mendapat perhatian dari pada
senyawa-senyawa yang lain. Hal ini disebabkan karena senyawa karbon mempunyai
peranan penting bagi semua mahluk hidup, misalnya sebagai bahan : Obat-obatan
dan kosmetika, Tekstil, Zat tambahan pada makanan dan minuman, Bahan bakar,
Desinfektan dan insektisida, dll.
Tabel
1.1 Perbedaan senyawa karbon organik dengan senyawa karbon anorganik
No
|
Senyawa Karbon Organik
|
Senyawa Karbon Anorganik
|
1
2
3
4
5
6
|
Semuanya berikatan
kovalen.
Mempunyai rantai yang
panjang.
Punya isomer.
Reaksinya relatif
lambat.
Umumnya tidak tahan
panas.
Umumnya tidak larut
dalam air.
|
Ada yang berikatan
ion, ada juga yang berikatan kovalen.
Tidak mempunyai rantai
yang panjang.
Tidak mempunyai
isomer.
Reaksinya relatif
cepat.
Umumnya tahan panas.
Umumnya larut dalam
air.
|
1.2
KEKHASAN
ATOM KARBON
Di
alam senyawa karbon terdapat dalam karbohidrat, protein, lemak
dan vitamin. Senyawa karbon banyak dijumpai di alam karena mempunyai
sifat-sifat yang khas yang tidak dimiliki oleh atom yang lain, diantaranya :
- Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal
benda-benda seperti grafit dan intan. Kedua macam bentuk benda
tersebut ternyata merupakan jenis atom karbon, yang membedakannya hanya sifat
fisik dari atom karbon.
- Grafit merupakan bentuk yang mantap dari
atom karbon pada tekanan 1 atmosfer dan suhu 298 K.
- Intan bentuk karbon pada keadaan suhu
1200 – 2400 K dan tekanan 500 sampai 100 000 atmosfer.
·
Intan
terbentuk pada suhu dan tekanan lebih tinggi dari grafit.
·
Senyawa
karbon dapat membentuk rantai karbon, sifat ini merupakan kekhasan dari atom
karbon, yaitu mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan atom karbon lainnya.
·
Dalam sistem periodik unsur, atom karbon
termasuk pada golongan IV-A, berarti atom karbon mempunyai 4 elektron pada
kulit terluarnya. Untuk mencapai kondisi yang stabil (seperti gas mulia)
diperlukan 4 elektron lagi dari atom yang lain dengan membentuk ikatan kovalen.
·
Untuk membentuk senyawa yang stabil, atom C
dapat menerima 4 elektron dari atom lain untuk dipakai bersama dengan membentuk
ikatan kovalen.
·
Atom hidrogen (H) mempunyai 1 elektron pada
kulit terluar, berarti atom H kekurangan 1 elektron untuk mencapai
kondisi yang stabil seperti gas mulia Helium (He).
·
Satu atom karbon dapat berikatan dengan
4 atom H untuk membentuk ikatan kovalen dan kedua atom tersebut telah berada
dalam kondisi yang stabil, H mempunyai 2 elektron terluar dan karbon (C)
mempunyai 8 elektron terluar.
·
Atom C
dapat mengikat 2 atom oksigen dengan membentuk ikatan rangkap dua.
ŸŸ
ŸŸ
ŸŸ
: C : + 2 :
O Þ O : : C : : O
Þ
O = C = O Þ
CO2
ŸŸ
ŸŸ
ŸŸ
·
Atom C
dapat mengikat 1 atom nitrogen dengan membentuk ikatan rangkap tiga.
H : C ::: N : Þ H – C º N
1.3 MENGUJI KEBERADAAN ATOM C, H, DAN O
DALAM SENYAWA
Cara
mengetahui adanya atom karbon, hidrogen dan oksigen dapat dilakukan dengan cara
berikut ini :
v Cara sederhana (dalam kehidupan sehari-hari)
w Jika plastik atau karet dibakar maka hasil akhirnya
adalah zat berwarna hitam (arang). Arang tersebut merupakan karbon.
Hal ini berarti di dalam plastik atau karet mengandung atom/unsur karbon.
w Jika gula pasir atau bahan makanan lainnya dipanaskan
terus menerus akan menghasilkan arang (gosong), hal ini menunjukkan
dalam bahan makanan tumbuhan juga terdapat atom/unsur karbon.
w Ikan, daging atau bahan makanan dari hewan jika dibakar
terlalu lama akan berubah menjadi arang.
|
![]() |
![]() |
|
![]() |
|
o Reaksi
pembakaran
Reaksi pembakaran sempurna suatu senyawa
hidrokarbon (CxHy) atau senyawa karbon (CxHyOz)
akan menghasilkan gas kabon dioksida (CO2) dan uap air (H2O).
Reaksi :
CxHy
(g) + O2
(g) Þ CO2 (g) + H2O
(g)
CxHyOz
(g) + O2 (g) Þ CO2
(g) + H2O (g)
Keberadaan atom/unsur karbon (C) dapat ditunjukkan dengan terbentuknya gas
karbon dioksida (CO2). Gas CO2 dapat diamati dengan
mereaksikannya dalam larutan kalsium hidroksida atau air kapur [Ca(OH)2].
Reaksi tersebut menghasilkan endapan kalsium karbonat [CaCO3]
berwarna putih (air kapur menjadi keruh).
Reaksi :
CO2(g) + Ca(OH)2 (aq) Þ
CaCO3(s) ¯ + H2O(g)
endapan putih keruh
Keberadaan atom/unsur
hidrogen (H) dapat ditunjukkan dengan terbentuknya uap air (H2O).
terjadinya uap air dapat dibuktikan dengan mengubah warna kertas cobalt dari
biru menjadi merah.
Keberadaan atom/unsur
oksigen (O) secara tidak langsung ditunjukkan oleh terbentuknya CO2
dan H2O.
§ Sampel (gula + CuO) dibakar hingga hangus
menghasilkan CO2 dan H2O.
§ Labu
A menjadi keruh karena CO2 bereaksi dengan Ca(OH)2
membentuk CaCO3.
§ Uap
air dalam labu B mengubah warna CuSO4 dari putih menjadi biru.
§ CaCl2
berfungsi sebagai pengikat uap air, KOH berfungsi untuk mengikat CO2
dan CuO berfungsi sebagai katalisator (mempercepat reaksi).
1.4
STRUKTUR
SENYAWA ORGANIK
Berdasarkan ikatan yang
terjadi diantara atom-atom karbon, molekul-molekul senyawa karbon yang akan
terbentuk adalah :
· Ikatan tunggal lurus
· Ikatan tunggal bercabang
· Ikatan melingkar
· Ikatan rangkap dua dan rangkap tiga
ü Rantai C ikatan tunggal lurus, contoh : - C – C
– C – C
ü Rantai C ikatan tunggal bercabang, contoh : – C –
C – C – C
½
C
ü Rantai C melingkar, Contoh ; C – C
½ ½
C – C
½ ½
ü Rantai C ikatan rangkap dua, contoh : C =
C
½ ½
ü Rantai C ikatan rangkap tiga, contoh : – C º C –
1.5 PENGGOLONGAN
SENYAWA ORGANIK
1. Berdasarkan atom karbon yang diikatnya
2. Berdasarkan bentuk rantai
3. Berdasarkan gugus fungsi.
1.5.1 BERDASARKAN
ATOM KARBON YANG DIIKATNYA
Berdasarkan
atom karbon yang diikatnya maka atom karbon digolongkan menjadi :
v Atom C primer, yaitu atom C yang mengikat 1 atom
atom C yang lain.
v Atom C sekunder, yaitu atom C yang mengikat 2 atom
C yang lain.
v Atom C tersier, yaitu atom C yang mengikat 3 atom
C yang lain.
v Atom C kuartener, yaitu atom C yang mengikat 4
atom C yang lain.
|
Contoh :
Cp
½
Cp - Ct -
Ck - Cs - Cs - Cp
½
½
Cp Cp
1.5.2 BERDASARKAN
BENTUK RANTAI
v Senyawa alifatis yaitu senyawa organik yang memiliki rantai C-nya
terbuka, ada yang berantai lurus (tidak bercabang) dan ada yang memiliki
cabang.
Yang termasuk senyawa
ini adalah hidrokarbon jenuh dan hidrokarbon tidak jenuh).
v Hidrokarbon jenuh disebut juga dengan golongan alkana, yaitu senyawa
organik yang hanya mengandung atom C dan H saja, berantai terbuka dan berikatan
tunggal.
v Hidrokarbon tidak jenuh, yaitu senyawa organik yang hanya mengandung atom C dan
H rantai terbuka dan berikatan rangkap dua atau tiga.
o Alkena,
yaitu senyawa organik yang hanya mengandung atom C dan H dan memiliki minimal
satu ikatan rangkap dua.
o Alkuna,
yaitu senyawa organik yang hanya mengandung atom C dan H dan memiliki minimal
satu ikatan rangkap tiga.
v Senyawa siklis yaitu
senyawa organik yang memiliki rantai C-nya membentuk lingkaran, lingkarannya
dapat mempunyai cabang.
v Senyawa
homosiklis
v Senyawa
aromatis, yaitu senyawa homosiklis yang lingkarannya terdiri dari
6 atom C, ikatan antar atom C bukanlah ikatan tunggal maupun rangkap dua,
melainkan antara keduanya, contoh benzena (C6H6) dan
turunannya.
v Alisiklis,
yaitu senyawa homosiklis dengan ikatan tunggal, dapat berbentuk lingkar tiga,
lingkar empat, lingkar lima dan lingkar enam.
v Senyawa
haterosiklis, yaitu senyawa siklis yang lingkarannya
tidak hanya terdiri dari atom C saja, melainkan juga mengandung atom lain
seperti : O ; S ; N, dll
v Senyawa polisiklis,
yaitu senyawa siklis yang rantai utamanya terbentuk lebih dari dua cincin /
lingkaran.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Toluen, Senyawa aromatis
|
Siklopentanol, senyawa alisiklis
|
Pirazol senyawa heterosiklis
|
Naftalena, senyawa polisiklis
|
1.5.3 BERDASARKAN GUGUS FUNGSI
Di dalam
molekul/senyawa, jika satu atom hidrogen atau lebih di dalam molekul tersebut
digantikan oleh atom atau gugus yang lain yang bersifat polar sehingga molekul
tersebut mempunyai ciri dan sifat tertentu dan dapat digolongkan pada kelompok
tertentu, maka gugus tersebut disebut gugus fungsional.
Contoh :
H
H
½
½
H –
C – H + OH ® H – C – OH
+ H
½
½
H
H
Ikatan rangkap dua dan
ikatan rangkap tiga dalam alkena dan alkuna juga dianggap sebagai gugus
fungsinonal, karena ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap tiga lebih reaktif
dibandingkan ikatan tunggal karbon-karbon.
Tabel
Golongan senyawa dan gugus fungsionalnya
Golongan Senyawa
|
Rumus
|
Gugus Fungsional
|
Rumus
|
Alkena
|
R2 - C = C - R2
|
Ikatan rangkap dua karbon-karbon
|
b
∕
C=C
∕
b
|
Alkuna
|
R - C º C - R
|
Ikatan rangkap tiga
karbon-karbon
|
- C º C -
|
Alkohol
|
R - OH
|
Gugus hidroksi
|
- OH
|
Eter
|
R - OR
|
Gugus alkoksi
|
- OR
|
Aldehid
|
O
║
R-CH
|
Gugus aldehid
|
O
║
- CH
|
Keton
|
O
║
R - C - R
|
Gugus keton
|
O
║
- C -
|
Asam karboksilat
|
O
║
R - C - OH
|
Gugus karboksilat
|
O
║
- C - OH
|
Ester
|
O
║
R - C - OR
|
Gugus ester
|
O
║
- C- OR
|
Amida
|
O
O
║
║
R-CNH2, R-CNHR
O
║
R - CNR2
|
Gugus amida
|
O
O
║
║
- CNH2, - CNHR
O
║
- CNR2
|
Amina
|
R-NH2, R-NHR,
R-NR2
|
Gugus amino
|
-NH2, -NHR, -NR2
|
Ket : R adalah gugus
alkil
sumber :
Fessenden & Fessenden,2000
makhluk hidup yang
terdapat dalam urine.
[3] Gambar 1.1 dikutip dari : www.atkearney.com, www.free.pistures-photos.com, www.geocities.com
Permasalahan nya Bila fenol dikatakan lebih asam dari pada alkohol temukan contoh suatu alkohol jauh lebih asam dari pada fenol! Jelaskan mengapa demikian!
Permasalahan nya Bila fenol dikatakan lebih asam dari pada alkohol temukan contoh suatu alkohol jauh lebih asam dari pada fenol! Jelaskan mengapa demikian!







assalamu'alaikum wr.wb
BalasHapussaya neli astuti dari kimia pgmipau dengan nim RSA1C114016 akan mencoba menjawab pertanyaan saudari fitri..
sebelumnya saya sedikit menyanggah pertanyaan nya terlebih dahulu, disini fitri meminta untuk menemukan contoh dari suatu alkohol yang lebih asam daripada fenol,
berdasarkan buku dan literatur yang telah saya cari belum ada ditemukan alkohol jauh lebih asam daripada fenol.jika pun ada saya belum menemukan jawabannya.
berdasarkan literatur yang saya baca bahwa senyawa fenol itu jauh lebih asam daripada alkohol hal ini di sebabkan karena karena anion yang dihasilkan oleh resonansi,dengan muatan negatifnya disebar (delokalisasi) oleh cincin aromatik.
Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O− yang dapat dilarutkan dalam air.
Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.
terimakasih. semoga membantu:)
Assalamualaikum wr. wb
BalasHapussaya Putri Bungsu dengan NIM RSA1C114010 akan mencoba membantu saudari Fitri, Suatu senyawa dikatakan asam jika senyawa tersebut dapat melepaskan proton (H+) di dalam larutan. Konstanta keasaman (Ka) menyatakan tingkat pelepasan proton tersebut. Semakin tinggi nilai Ka suatu senyawa, semakin asam senyawa itu. Biasanya nilai Ka disederhanakan dengan mengonversi Ka menjadi pKa. Dimana tingkat keasaman yang dinyatakan dengan pKa berbalikan dengan Ka, yaitu semakin asam suatu senyawa, semakin rendah nilai pKa. Secara umum senyawa fenolik merupakan asam lemah. Tingkat keasaman fenol (pKa=10) berbeda dengan alcohol alifatis (pKa=16-19). Meskipun fenol dan alcohol alifatis sama-sama hanya memiliki satu gugus hidroksio, namun fenol lebih asam dibandingalkohol alifatis. Hal ini karena anion yang terbentuk setelah melepaskan proton padafenol lebih stabil jika dibandingkan alcohol alifatis.
Jadi, berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa untuk mendapapatkan alcohol yang lebih asam dari fenol ditemukan dahulu anion alcohol yang lebih stabil dari pada anion fenol. Dan dapat juga dengan pemberian subsituen penarik electron (NO2) sehingga proton (H+) terikat lebih lemah dan mudah untuk dilepaskan. Namun saya belum menemukan senyawa alcohol yang lebih asam dari fenol.
sekian, semoga dapat membantu.
assalamualaikum wr.wb. saya mardhyati albanjari dengan nim RRA1C114002 mencoba membantu menjawab. Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.
BalasHapusSaat ikatan hidrogen-oksigen pada fenol terputus, didapatkan ion fenoksida , C6H5O-. yang mengalami delokalisasi. Pada saat itu salah satu dari antara elektron bebas dari atom oksigen overlap dengan elektron dari rantai benzene. Overlap ini mengakibatkan dislokalisasi. Dan sebagai hasil muatan negatif tidak hanya berada pada oksigen tetapi tersebar ke seluruh molekul
Delokalisasi membuat ion fenoksida lebih stabil dari seharusnya sehingga fenol menjadi asam. Namun delokalisasi belum membagi muatan dengan efektif. Muatan negatif disekitar oksigen akan tertarik pada ion hidrogen dan membuat lebih mudah terbentuknya fenol kembali. Sehingga itu fenol merupakan asam yang sangat lemah. Namun Fenol memiliki keasaman sejuta kali etanol. Selain itu keasaman fenol dipengaruhi oleh adanya resonansi pada benzenanya. Akibat resonansi ini, maka kesetimbangan bergeser arah pembentukannya. Hal ini tidak terdapat pada alkoksida (ion alkohol). Dengan demikian fenol memiliki keasaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan alkohol.
Alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh gugus hidroksil yang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang seperti air berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya alkohol dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan alkohol berbobot molekul tinggi tidak demikian. Alkohol mendidih pada temperatur yang cukup tinggi. Sebagai suatu kelompok senyawa, fenol memiliki titik didih dan kelar kelarutan yang sangat bervariasi, tergantung pada sifat subtituen yang menempel pada cincin benzena
Ass..
BalasHapusSaya Vicaria Adelina ( RRA1C114004) setuju dengan jawaban dengan jawaban Neli Astuti yang mengatakan bahwa fenol merupakan senyawa yang memiliki kadar asam lebih tinggi. Seperti yang dikemukakan oleh (Fessenden R.J dan J.S.Fessenden : 1986) bahwa :
Alkohol merupakan suatu senyawa yang mengandung gugus hidroksil, -OH. Fenol juga mngandung gugus hidroksil tetapi gugus fungsi ini melekat pada cincin aromatik. Nama IUPAC alkohol diambil dari nama alkana induknya, tetapi degan akhiran –ol. Suatu angka awalan yang dipilih serendah mungkin, digunakan jika diperlukan. Bisa lebih dari satu gugus hdroksil, digunakan penandaan di, tri, dan sebagainya, tepat sebelum akhiran –ol. Catatan akhiran a pada nama alkana induknya tetap, kemudian baru diberi konsonan “d” dari akhiran diol. (Fessenden R.J dan J.S.Fessenden : 1986).
Fenol merupakan asam yang lebih kuat dari pada alkohol atau air.Fenol dengan pKa=10 dengan kekuatan asam kira-kira ditengah antara etanol dan asam asetat. Ion fenoksida merupakan basa yang lebih lemah dibandingkan OH, oleh karena itu,fenoksida dapat diolah dengan seuatu fenol dan NaOH dalam air.reaktifitas ini sangat berbeda dengan reaktifitas alkohol. Fenol bersifat lebih asam dibandingkan alkohol karena anion yang dihasilkan oleh resonansi,dengan muatan negatifnya disebar (delokalisasi) oleh cincin aromatik. (Fessenden R.J dan J.S.Fessenden ; 1986).